buNga LangKa

Januari 3, 2009 agribozcute

BUNGA LANGKA


Pada dasarnya alam mempunyai sifat yang beraneka ragam, tetapi serasi dan seimbang. Ada banyak keragaman bunga yang bisa kita nikmati, tetapi ada beberapa bunga yang tergolong langka (terbatas jumlahnya). Oleh karena itu, perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan keseimbangan itu. Eksploitasi tumbuhan yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan dan kepunahan, dan hal ini akan berkaitan dengan rusaknya rantai makanan. Kerusakan yang terjadi karena punahnya salah satu faktor dari rantai makanan akan berakibat punahnya konsumen tingkat di atasnya. Jika suatu spesies organisme punah, maka spesies itu tidak pernah akan muncul lagi. Dipandang dari segi ilmu pengetahuan, hal itu merupakan suatu kerugian besar. Selain telah adanya sumber daya tumbuhan yang punah, beberapa jenis tumbuhan langka terancam pula oleh kepunahan, misalnya Rafflesia arnoldi (di Indonesia) dan pohon raksasa kayu merah (Giant Redwood di Amerika). Maka dari itu, manusia sebagai makhluk hidup yang berbudaya, perlu menggunakan sumber daya alam dengan penuh kebijaksanaan. Berikut ini ada beberapa macam bunga langka yang perlu dilestarikan agar tidak punah:

  1. Bunga Edelweis
  2. Bunga Rafflesia
  3. Bunga Wijayakusuma
  4. Bunga Udumbara
  5. Bunga Peony
  6. Bunga Kastuba

Melestarikan bunga langka tiada ruginya. Banyak hal yang menarik dalam kehidupan liar di alam bebas, suatu bunga bisa menarik karena kelangkaannya, walaupun belum tentu menarik dari ‘kegunaannya’. Kelangkaan bisa menarik karena hal unik dari kenampakan maupun sifat hidupnya. Bahkan, keberadaan bunga langka juga dapat menjadi sumber investasi baru bagi para penggemar bunga karena beberapa jenis bunga langka dapat diperjualbelikan dengan harga tinggi, seperti:

  1. Anthurium. Bunga anthurium, seperti: Jenmanii, Star Buck, Sirih, Rufles, dan Hookeri Marble yang memang memiliki nilai jual tinggi ini mulai jarang terlihat di Tomohon.
  2. Adenium

BUNGA EDELWEIS

Bunga edelweis (Leontopodium alpinum) yang sering disebut-sebut sebagai bunga abadi tumbuh di tempat terbuka dan lembab yang terdapat di puncak atau lereng gunung tertentu, seperti Gunung Gede, Malabar, Papandayan, Cikurai, Guntur, dll. Dalam ilmu botani, bunga tersebut terbentuk secara alami dari timbunan humus dan memerlukan waktu sedikitnya lima tahun untuk tumbuh dan berbunga.

Bunga ini rata-rata berwarna putih–abu-kehijauan dan putih kekuning-kuningan. Namun, kabar angin mengatakan bahwa ada edelweis yang berwarna ungu, biru, dan merah. Kebenarannya masih sebuah misteri karena saya belum pernah melihatnya secara langsung maupun di dunia maya. Bunga ini tumbuh membentuk rimbunan kecil di permukanan tanah. Ketika dipetik dan disimpan di tempat kering dan temperatur ruangan, bunga ini tidak akan berubah warna seolah-olah ia tetap hidup dan abadi. Inilah keistimewaannya sehingga ia sering menjadi lambang kecintaan seorang remaja pria terdadap kekasihnya. Hal ini jugalah yang memancing para pendaki untuk memetik dan membawanya pulang. Bunga ini tidak akan layu jika sudah dipetik tetapi bunga ini hanya akan mengering.

Bunga ini memang tidak begitu indah bentuknya tetapi perjuangan untuk memperolehnya telah membuatnya sangat berkesan dan indah untuk diceritakan. Untuk mendapatkannya, kita akan mengalami kepanasan, kedinginan, kehujanan (bila sedang musim hujan), memasuki hutan yang lebat, dan menempuh perjalanan yg jauh. Namun, apapun akan dilakukan untuk melihat dan menikmati bunga EDELWEIS bagi seorang pecinta alam.

DAYA TARIK EDELWEIS:

Di Gunung Gede:

Bunga Edelweiss dikelompokkan sebagai tanaman langka yang dilindungi oleh pemerintah, karena itulah setiap pendaki diperingatkan kembali untuk tidak memetik bunga ini. Bagi siapa yang melanggar ketentuan ini akan dihukum dan didenda. Agaknya larangan dan ancaman hukuman ini semakin menunjukkan kejantanan, keteguhan hati dan pengobanan para pedaki remaja itu untuk membuktikan cinta mereka terhadap kekasihnya. Juga membuktikan betapa romantis mereka. Maka tidaklah heran jika ada yang memetik beberapa tangkai dan memasukkannya ke celana dalam di antara kedua selangkangannya. Dia telah mempersiapkan dari rumah dengan mengenakan dua lapis celana dalam. Dengan begitu dia bisa lolos dari geledahan penjaga pos di lereng gunung.

Di Gunung Merbabu:

LeisureRoll, Boyolali – Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) di Kabupaten Boyolali tetap menjadi magnet para pendaki. Pada peringatan 17 Agustus 2008 jumlah pendaki ke Merbabu tercatat sebanyak 1.461 orang, sedangkan melalui Selo Boyolali sebanyak 699 orang. Banyaknya pendaki yang melakukan pendakian di Merbabu membuat pengelola bekerja ekstra, terutama terkait dengan pengamanan di gunung tersebut. Pengelola BTNGM melarang para pendaki Gunung Merbabu mengambil bunga “Edelweis” karena bunga itu termasuk bunga langka yang dilindungi. Untung mengatakan bahwa pada Senin (18/8) ada sebanyak tujuh pendaki di Gunung Merbabu terpaksa diamankan oleh Polisi Kehutanan (Polhut) BTNMG Boyolali karena mereka ketahuan mengambil bunga Edelweis saat melakukan pendakian menyambut HUT ke-63 RI, Minggu (17/8). Menurut dia, pihaknya telah memperingatkan para pendaki tersebut dan meberikan sosialisasi bahwa bunga Edelweis merupakan bunga langka yang dilindungi. Bunga itu tidak boleh diambil, bahkan merusak habitatnya. Selain itu, pihaknya juga mengamankan sebuah golok tebas dan sabit masing-masing empat buah serta beberapa botol minuman keras. Namun, pihaknya tidak menahan pemiliknya dan hanya diberikan peringatan. “Kami sejak awal sudah melakukan antisipasi dengan menerjunkan anggota Polhut keempat titik jalur pendakian antara lain di Tuk Pakis Selo (Boyolali), Tekelan dan Cuntel (Kopeng), Getasan (Kabupaten Semarang), dan Wekas Pakis (Magelang),” katanya.

BUNGA RAFFLESIA

Bunga Rafflesia juga dikenal sebagai bunga bangkai karena baunya yang tidak sedap. Bunga Rafflesia Arnoldy yang juga disebut sebagai “Puspa Langka” merupakan bunga raksasa yang pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles saat dia sedang bertugas di Bengkulu. Sir Thomas menemukan bunga tersebut bersama salah seorang ahli botani yang bernama Dr.Josep Arnold Browen di Lubuk Kabupaten Bengkulu Selatan pada tahun 1818. Pada tahun 1920 kedua tokoh Inggris ini mengukuhkan Bengkulu sebagai Bumi Rafflesia sekaligus menamakan bunga langka itu sebagai Rafflesia Arnoldi. Bunga ini disebut puspa langka karena di tempat lain jarang ditemukan bunga semacam ini. Di dunia ada sekitar 17 jenis bunga tersebut, tetapi 12 jenis di antaranya tumbuh pada kawasan hutan tropis termasuk Indonesia (Bengkulu).

Jenis-jenis bunga Rafflesia, yaitu:

  1. apa saja ya??? (yang tau, beritau donk :))

Bunga Padma (camera trap) adalah kerabat bunga padma (Rafflesia Arnoldi R. Brown) yang merupakan flora maskot Indonesia dan bunga terbesar di dunia. Diameter bunga ini bisa mencapai 100 cm sehingga bunga ini merupakan bunga terbesar dan sangat terkenal di dunia. Masa kuncupnya berkisar antara 6 – 8 bulan sedangkan masa mekarnya 15 hari. Bunga ini tumbuh tersebar di seluruh Bengkulu di lereng Bukit Barisan. Bunga yang diternukan di lereng Gunung Sorik Merapi seperti pada gambar ini diduga merupakan jenis baru yang belum pernah dideskripsikan. Bunga padma sangat unik karena dia tidak memiliki akar, batang maupun daun. Bunga padma tumbuh sebagai parasit di jenis liana tertentu (biasanya di Tetrastigma sp.) dan merupakan jenis flora yang secara global terancam punah. Hingga kini, bunga ini masih diteliti oleh para ahli tanaman di Herbarium Bogoriense, Bogor, Jawa Barat. Untuk menjaga kebesaran nama bunga Raffelsia itu perlu diadakan promosi secara rutin terhadap dunia internasional, disamping dilakukan pengamanan ekstra ketat terhadap lokasi habitat bunga langka tersebut.

PENEMUAN BUNGA BANGKAI

DI RIAU:

Tanpa disangka, serumpun Bunga Bangkai (Amorphophallus titanium) tumbuh segar di areal HTI (Hutan Tanaman Industri) PT. Riau Andalan Pulp And Paper (Riaupulp) Estate Logas. Kejadian langka di areal kerja penanaman ini awalnya ditemukan oleh karyawan Riaupulp di Estate Logas, Kec. Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi, bernama Maskot Silaban bersama empat temannya, Senin (2/6). Hal tersebut dinyatakan Manager Riaupulp Estate Logas, Tendi didampingi Forest Protection Riaupulp Estate Logas, P Turnip, Rabu (11/6) sepekan setelah ditemukannnya tumbuhan langka tersebut. Menurut Tendi, saat itu stafnya akan membuat patok untuk tanda bagi pembuatan infield drain, dan seketika melihat ada tanaman aneh yang tumbuh di lokasi kerja mereka. “Saat itu mereka langsung membuat patok merah di sekeliling tanaman agar tidak ada yang mengganggu. Kemudian mereka melaporkan temuan tersebut kepada atasannya untuk kemudian Tim Manajemen Riaupulp Estate Logas mengambil dokumentasinya,” kata Tendi. Ditambahkan Tendi, bunga langka ini tumbuh di Compartement G.013 Estate Logas, Desa Pulau Padang Kec.Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi dan merupakan tanaman dari suku talas-talasan (Araceae family) atau yang lazim juga disebut Batang Krebuit. Dalam pada itu, Direktur Utama Riaupulp Rudi Fajar menegaskan bahwa temuan tersebut sangat penting dan berguna. Pihaknya melalui Environmental Departement di Estate Logas akan terus menjaga dan mengamati pertumbuhan Bunga Bangkai tersebut, yang saat ini usianya sudah memasuki pekan kedua. “Sesuai arah dan kebijakan lingkungan di Riaupulp, kami punya komitment kuat untuk senantiasa menjaga dan memelihara lingkungan bagi berkembangnya flora dan fauna sebagai bagian dari kebijakan operasional perusahaan,” tegas Rudi.

DI BOGOR:

Bunga bangkai dengan nama Ilmiah (Amorphophallus Titanium Becc) muncul kembali di Kebun Raya Bogor (KRB). Kemunculan kembali bunga bangkai di KRB merupakan penantian yang panjang, sehingga diharapkan tidak lama lagi akan bisa disaksikan bunga itu akan mekar dengan aroma khasnya. Munculnya kembali bunga bangkai di KRB merupakan yang ke lima kalinya setelah yang terakhir muncul pada Agustus 2001 lalu.“Biasanya bunga raksasa jenis Titan Arum ini akan mekar antara dua sampai tiga tahun sekali,” jelas Kepala Bagian Humas KRB Ondidi Susanto di temui di kantornya. The Titan Arum (bunga bangkai) jenis ini merupakan tanaman asli dari daerah Sumatera yang tergolong pada jenis tanaman umbi-ubian. Bunga jenis ini tergolong pada jenis tanaman yang sangat langka di dunia. Apalagi Titan Arum ini juga memiliki banyak keistimewaan dibandingkan dengan bunga lainnya. “Bunga ini memiliki umbi dengan berat lebih dari 200 Kg, dengan tinggi bunga mencapai 3,5 meter dan memiliki diameter (kelopak) bunga 2 meteran. Maka tidak heran jika bunga ini disebut-sebut sebagai bunga raksasa dan terbesar di dunia,” terangnya. The Titan Arum meski memiliki ciri khas dengan aroma bau busuknya yang sangat menyengat, namun kehadiran bunga ini telah terbukti dapat mengharumkan nama Indonesia ke manca negara. Amorphophallus Titanum Becc merupakan koleksi langka KRB yang berasal dari Muara Imat, Jambi. Selama dikembangkan di KRB pada tahun 1915, bunga yang hanya terdapat di Pulau Sumatera ini sudah tiga kali mekar, yaitu pada 5 Februari 1994 dengan tinggi 160 cm dan lebar 105 cm, kemudian 12 Juni 1997 dengan tinggi 252 cm dan lebar 152 cm, dan 1 Agustus 2001 dengan tinggi 290 cm. Bunga ini pertama kali ditemukan oleh Dr Odordo Becacari, seorang ahli botani berkebangsaan Italia, di kawasan Air mancur, Lembah Anai, Sumatra Barat pada 1878. Ada sekitar 170 jenis bunga Bangkai yang terdapat di dunia, namun jenis bunga bangkai (Amorphophallus Titanum) dan (Amorphophallus Gigas) hanya terdapat di Indonesia, tepatnya di daerah Sumatera. Keistimewaan dari bunga raksasa ini, biasanya memiliki bentuk dan warna yang sangat indah jika sudah mekar. “Kelopak bunga (seludangnya) akan berwarna merah maroon menawan. Sementara warna bonggol bunga (phallus) berwarna kuning keemasan. Terpadu sunguh cantik dan sangat eksotik,” ujar Staf peneliti dari LIPI ini. Dijelaskan, bunga tersebut mulai sejak hari Rabu,(28/06) dan saat ini tingginya telah mencapai 170 cm. Dia mempredisikan, bunga bangkai ini akan mekar dengan sempurna satu pekan mendatang. Bunga langka itu kalau mekar begitu indah. Namun, seperti namanya bunga bangkai, bau seperti tikus busuk menebar di sekelilingnya. Bahkan, dari radius 100 meter aroma tak sedap tersebut sudah mulai tercium. Kemunculan kembali bunga bangkai di KRB diharapkan akan mendatangkan keuntungan lebih bagi pihak Kebun Raya Bogor. “Kami berharap ini akan menjadi berkah bagi KRB menyusul terjadinya angin rebut yang telah memporak-oiarndakan KRB awal Juni lalu. “Kita tahu, pada awal Juni lalu KRB telah dibuat porak poranda akibat diterjang angin putting beliung sehingga sejumlah pohon koleksi KRB banyak yang tumbang. Bahkan dampak dari kejadian tersebut KRB terpaksa ditutup sementara untuk beberapa pekan, “ katanya.

BUNGA WIJAYAKUSUMA

Bunga ini hanya mengembang di malam hari mulai sekitar jam 8 malam, dan puncaknya di jam 12 malam, saat mengembang mengeluarkan aroma harum, hampir seperti melati tapi bercampur dengan lili, setelah jam 12 malam, dia layu dan tidak mengembang lagi, ini baru namanya BUNGA MALAM…

Wijayakusuma (Epiphyllum anguliger) termasuk jenis kaktus, divisi anthophita, bangsa opuntiales dan kelas dicotiledoneae. Jenis kaktus terdapat sekitar 1.500 jenis (famili). Tanaman kaktus dapat hidup subur di daerah sedang sampai tropis. Demikian juga tanaman wijayakusuma. Bunga wijayakusuma hanya merekah beberapa saat saja dan tidak semua tanaman wijayakusuma dapat berbunga dengan mudah, tergantung dari iklim, kesuburan tanah dan cara pemeliharaan.

Pada umumnya tanaman jenis kaktus sukar untuk ditentukan morfologinya, tetapi wijayakusuma dapat dilihat dengan jelas mana bagian daun dan mana bagian batangnya, setelah tanaman ini berumur tua. Batang pohon wijayakusuma sebenarnya terbentuk dari helaian daun yang mengeras dan mengecil. Helaian daunnya pipih, berwarna hijau dengan permukaan daun halus tidak berduri, lain halnya dengan kaktus-kaktus pada umumnya. Pada setiap tepian daun wijayakusuma terdapat lekukan-lekukan yang ditumbuhi tunas daun atau bunga Wijayakusuma dapat tumbuh baik ditempat yang tidak terlalu panas.

Kandungan di dalam bunga wijayakusuma ini belum pernah diteliti tetapi telah terbukti dapat mengurangi rasa sakit dan mempercepat pembekuan darah sehingga tanaman ini berkhasiat untuk menyembuhkan luka. Adapun ramuannya, tumbuk satu helai daun wijayakusuma hingga halus. Oleskan pada luka, kemudian balut dengan perban.

CARA MENANAM:

Jika akan ditanam dalam pot, sebaiknya ia diberi media tanam campuran lumut Sphagnum, hancuran batang paku tiang, dan pasir bersih sedikit, seperti yang dipakai untuk menanam anggrek.

Bibit dapat diperoleh dengan memotong cabangnya sebagai stek. Cabang yang pipih seperti daun berdaging tebal dan hijau itu dipotong sependek 15 cm, dan perlu ditunaskan dulu, tetapi tidak boleh di tempat yang lembap. Lagi pula perlu diangin-anginkan dulu di tempat teduh selama beberapa hari supaya kering lukanya. Barulah ditancapkan dengan pangkalnya terbenam hanya sedalam 2 cm (kalau terlalu dalam akan busuk). Sebelumnya lagi, pangkal stek ini perlu ditutulkan ke dalam serbuk belerang dulu, untuk mencegah bakteri pembusukan.

Sesudah berakar, yang dapat dilihat tandanya berupa tunas cabang yang muncul segar, stek dipindah ke dalam pot berisi media tanam anggrek. Ia hidup senang kalau akarnya berdesak-desakan. Jadi pot yang dipilih untuknya sebaiknya yang kecil. Pot berisi akar ini perlu diberi kesempatan mengering dulu, sebelum disirami air berikutnya. Harus ada masa kering yang cukup di antara saat-saat penyiraman itu. Kalau tidak, akar akan busuk. Karena asalnya dari hutan belantara tropis yang teduh di Amerika Selatan, ia pun minta lingkungan yang ternaungi dari sengatan matahari terik. Ketika masih kecil, tanaman boleh saja dibiarkan hidup tegak tanpa sesuatu penopang. Tetapi kalau sudah besar, dan batangnya makin berat, ia perlu diberi perkuatan. Misalnya, potnya dimasukkan ke dalam guci keramik yang lebih besar. Atau didekatkan pada terali, tiang pergola, atau tembok. Kalau tidak, batangnya yang berat akan patah pangkalnya.

Berbunganya setahun sekali pada musim hujan. Jadi menjelang musim bunga itu tanaman sebaiknya diberi pupuk seperti yang dipakai untuk anggrek, agar rajin berbunga. Meskipun berbunganya pada waktu malam, tanaman perlu diberi cahaya matahari ekstra pada siang harinya, agar lebih giat berfotosintesis, untuk merangsang pembukaan kuncup bunga. Di luar musim bunga, ia mogok. Jadi percuma diberi pupuk dan obat perangsang yang lain.

Arti Wijayakusuma:

Nama Wijayakusuma banyak dipakai di wilayah Banyumasan dan sekitarnya, selain sudah sangat terkenal sejak dahulu kala, Wijayakusuma merupakan lambang kemenangan atau kejayaan. Panglima Besar Jenderal Soedirman (sebelum masuk militer) memberi nama koperasi yang didirikannya Persatuan Koperasi Indonesia “Wijayakusuma”, Korem 71 Purwokerto memiliki nama Wijayakusuma, di Purwokerto ada Universitas Wijayakusuma, sebuah hotel berbintang di Cilacap juga menggunakan nama Wijayakusuma, kemudian lambang Kabupaten Cilacap juga Wijayakusuma. Selain Bawor dan Kudhi, Wijayakusuma memang menjadi salah satu lambang dari wilayah Banyumasan dan sekitarnya.

BUNGA UDUMBARA

MENAKJUBKAN! Bunga legendaris Udumbara yang dipercayai umat Budha tumbuh setiap 3.000 tahun sekali, ditemukan tumbuh di dataran Engku Putri, Batam. Penemuannya pun secara tidak sengaja oleh bocah Evi Yanti yang berusia 10 tahun saat mengikuti senam Falun Dava, Minggu (27/4) pagi. Menurut umat Budha bunga ini merupakan penanda datangnya Raja Sakral Falun (Roda Hukum). Penemuan bunga yang tumbuh 3.000 tahun sekali tersebut menjadikan Kota Batam sebagai tempat ke tujuh di dunia sebagai tempat tumbuhnya bunga langka ini. Selain Batam, bunga tersebut sebelumnya telah ditemukan di Kota California Amerika Serikat, Australia, Korea, daratan China, Hong Kong, Singapura, Taiwan dan di Korea pada 1997. Penemuan bunga itu tentu saja mengundang decak kagum. Puluhan peserta senam Falun Dava langsung berkerumun dan melihat bunga itu. “Saya melihat bunga Udumbara pertama kali di media cetak dan internet-internet,” tutur Evi. Awalnya, Evi ingin memetik buah ceri yang tumbuh di tepi dataran Engku Putri. Tiba-tiba mata Evi terkesima melihat sekuntum bunga yang rasa-rasanya pernah ia lihat dan baca di media cetak dan internet. Setelah menghampiri rasa penasaran Evi berbuah menjadi ketakjuban. Ia bisa melihat secara langsung bunga Udumbara yang sebelumnya hanya bisa ia dengar legendanya. Evi kemudian memanggil Rudi, seorang peserta senam. Rudi kaget dengan munculnya bunga tersebut di Batam.”Ini luar biasa buat masyarakat Batam,” ujar Rudi. Bunga itu tumbuh di daun tumbuhan yang lain. Warnanya putih dan berukuran sangat kecil. Sekilas mirip dengan sarang laba-laba yang menempel di daun.

Peserta senam kemudian berinisiatif berkeliling dataran Engku Putri. Secara mengejutkan, mereka juga menemukan bunga sama di empat tempat yang berbeda. Bunga itu juga tumbuh di daun bunga yang lain. Bunga Udumbara dipercaya datang ke dunia dengan cara-cara yang luar biasa. Bunga langka ini, sejauh ini telah ditemukan pada beberapa obyek, yaitu patung Buddha, pipa baja, jendela, daun-daunan, dan batu bata. Menurut kitab Buddha, “Udumbara” adalah bahasa Sanskrit yang berarti “bunga keberuntungan dari surga.” Rol ke 8 dari kitab “Huilin Yin yi” (sebuah kitab Buddha), mengatakan: “Udumbara adalah lambang spiritual yang sangat baik, Bunga Surga, di dunia tidak terdapat bunga ini, di Kala sang Tathagatha atau Raja Roda Emas datang ke dunia, karena rahmat dan kebajikan yang sangat besar barulah akan membuat bunga ini muncul.”

Menurut kitab suci Budha kuno, warna putih “bunga Surga” selain menggambarkan kesan kelembutan juga menandakan datangnya Raja Sakral Falun atau Raja Roda Hukum umat Budha. Berbeda dengan tempat tumbuhnya sebelumnya yang kebanyakan di patung Budha, pipa baja, jendela, daun-daunan, dan batu bata, di dataran alun-alun Engku Putri Batam Centre, bunga yang luar biasa langka itu hanya tumbuh di atas delapan daun beberapa bunga. Bunga yang mungil, lembut dan memiliki tangkai lebih kecil dari rambut manusia itu berwarna putih, tumbuh dan menggantung pada tangkai-tangkai serabut halus. Beberapa daun mempunyai 30 tunas kecil di atasnya tapi ada juga sebagian memiliki 40, 50 atau 60 tunas. Menurut “Etimologi dalam YinYi Huilin,” sebuah kitab suci Buddha dari Dinasti Tang pada awal abad ke-9, “Udumbara muncul di Langit. Ini bukan milik manusia di dunia. Hanya maha belas kasih dari Tathagata yang sedang bereinkarnasi atau munculnya Raja Sakral Falun yang akan menyebabkan Udumbara muncul di dunia manusia.”(aprizal/yahya)

Daya Tarik Bunga Udumbara:

Setelah berita mengenai penemuan bunga Udumbara dimuat di Tribun Batam, banyak warga kota Batam datang melihatnya secara langsung. Banyak orang yang memetik bunga Udumbara dan dibawa pulang untuk diperlihatkan ke orang lain. Oleh karenanya Pemko Batam melalui humasnya pada senin sore (28/4) memberi tulisan peringatan berukuran 4R. Diantaranya berbunyi “Peringatan, mohon jangan disentuh. Please, do not touch,” dan lain-lain. Beberapa pohon diberi lakban sebagai pembatas karena banyak ditumbuhi Udumbara. Aparat Pemerintah Kota Batam mesti memasang line, pembatas untuk menghindari membludaknya warga yang ingin menonton. Beberapa petugas Satpol PP juga ditugaskan Pemko Batam menjaga bunga-bunga tersebut agar tidak dirusak. Selain muncul di Batam, sebelumnya bunga Udumbara telah dilaporkan di Australia, Korea, daratan China, Hong Kong, Singapura, dan Taiwan. Udumbara mulai tumbuh pada Patung Buddha, batu bata, kaca, pipa besi, dan daun tanaman.

Gejala paling awal merekahnya Bunga Udumbara di Korea terjadi pada bulan Juli 1997. Pada saat itu Kepala Biara di jalan Jingji, distrik Guangzhou menemukan 24 kuntum Bunga Udumbara di bagian dada patung Tatagatha emas yang berdiameter 3 cm. Kemudian Bunga Udumbara bukan hanya ditemukan di vihara, berturut-turut juga ditemukan di sejumlah tempat lain. Menurut catatan kitab Buddha, tahun 1997 adalah tahun 3024 tarikh Buddhis. Kelangkaan bunga Udumbara menjadikan bunga ini istimewa dan berharga. Tercatat pada kitab Buddha sebagai bunga yang diimajinasikan, baru akan merekah pada saat Tatagatha atau Raja Pemutar Roda datang ke dunia. Kitab Fa Hua Wen Ju (Saddharma Pundarika Sutera), mencatat bahwa bunga Udumbara muncul tiga ribu tahun sekali, di kala Raja Roda Emas datang.

BUNGA PEONY

Peony ( Paeonia ) adalah genus tunggal untuk tanaman hias yang tergolong keluarga Paeoniaceae . Tanaman peony merupakan tanaman rempah yang tergolong tumbuhan tahunan ( perenial ). Tinggi mulai dari 50 cm hingga 1,5 meter. Tinggi tanaman yang merupakan tumbuhan semak dapat mencapai 2-3 meter. Tanaman berbunga di akhir musim semi sampai awal musim panas. Bunga peony ada yang berbau harum, warnanya bisa merah, merah tua, putih, merah jambu, kuning, atau ungu.

Tanaman peony berasal dari Tiongkok, Eropa selatan dan Amerika Utara bagian barat. Bunga peony adalah bunga negara bagian Indiana, Amerika Serikat. Jenis-jenis bunga Peony, antara lain:

•  Spesies tanaman rempah (sekitar 30 spesies):

•  Species tanaman berkayu (sekitar 10 spesies):

Selain bunganya yang indah dipandang, bagian akar Peony Tiongkok ( Paeonia lactiflora ) sering digunakan di dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk penghilang rasa sakit, penurun panas, dan pencegah infeksi.

Bunga peony merupakan salah satu bunga yang paling sering digunakan dalam bidang seni ornamen. Sejak zaman dulu, gambar-gambar bunga peony sering ditemukan pada berbagai macam keramik dan lukisan-lukisan di Tiongkok. Kota Luoyang di provinsi Henan terkenal sebagai pusat pembibitan bunga peony. Di Jepang, taman-taman dengan spesialiasi bunga peony terletak di Prefektur Shimane.

BUNGA KASTUBA

Bunga Kastuba ( Euphorbia pulcherrima ) biasa disebut juga Poinsettia pulcherrima , yang menarik dari bunga ini adalah daunnya yang mengalami perubahan bentuk dan warnanya menyerupai bunga. Tatkala masih muda, daun kastuba berwarna merah menyala, kemudian menjadi hijau setelah memasuki masa tua. Daun kastuba mengandung saponin, sulfur, lemak, amylodextrin, pati dan asam formlat. Oleh karena itu, daunnya dapat digunakan sebagai tonikum dan untuk mengobati luka. Batangnya yang mengeluarkan getah juga dipakai untuk menyembuhkan luka baru. Selain itu, kastuba juga dapat digunakan sebagai obat disentri, penyakit paru-paru (TBC), melancarkan haid, dan memperbanyak air susu ibu (ASI).

Kastuba dapat dikembangbiakkan dengan stek. Pertama-tama, dipilih cabang yang tua dengan diameter sekurang-kurangnya 1 cm. Cabang dipotong sepanjang 15 cm. Setiap potongan memiliki 3 – 4 mata tunas. Cara memotong, sebaiknya bidang potongan miring pada jarak 1 cm dari titik tumbuh teratas ataupun terbawah. Potongan stek kemudian direndam dalam larutan yang mengandung ZPT, kemudian ditanam di polybag dalam media tanah campur pasir dengan perbandingan 1 : 1. Akar akan tumbuh sekitar 10-12 minggu, setelah itu baru ditanam dalam pot-pot kecil.

Kastuba sangat membutuhkan suasana gelap agar bisa berkembang secara optimal, bisa berkisar antara 12 – 14 jam sehari (nah ini bagian tersulitnya, kalo bisa gelap gulita tanpa cahaya).

About these ads

Entry Filed under: Uncategorized

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
     
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: